Bedah Gagasan Capres Cawapres

Semarak demokrasi Indonesia tahun 2019 telah dimulai. Ajang kompetisi ternama di negeri ini telah dinantikan oleh ratusan juta rakyat Indonesia. Sebab, ajang ini menentukan hajat hidupnya selama lima tahun mendatang, bahkan selamanya. Jika salah dalam menentukan pilihannya untuk calon pemimpin dan calon wakil rakyat yang tidak pro terhadap rakyatnya. Maka akan menimbulkan kegaduhan politik dan mengancam stabilitas negara. Agar hal itu tidak terjadi, mahasiswa melakukan pengawalan pemilu sebagai agen kontrol sosial.
Mahasiswa sudah melakukan pengawalan pemilu dengan membentuk tim pemilu center. Ada tiga divisi yang menjalankan tugas dan fungsinya yaitu edukasi, controlling, dan advokasi. Divisi edukasi telah melakukan pencerdasan kepada mahasiswa dan masyarakat baik melalui media sosial maupun secara langsung dengan isu yang diangkat seperti anti golongan putih (golput), anti politik uang, calon legislatif yang menyandang status narakoruptor, gagasan partai politik, Daftar Pemilih Tetap (DPT), dan pindah memilih. Divisi controlling telah melakukan audiensi dan aksi ke Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI), Komisi Pemilihan Umum Kota Jakarta Timur, Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (BAWASLU RI), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia (DKPP RI). Serta divisi advokasi telah melakukan layanan cek DPT dan pindah memilih. Pengawalan pemilu ini dilakukan untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat dan menekan angka kecurangan.
KPU RI telah memfasilitasi masyarakat untuk menentukan pilihannya melalui debat calon presiden (Capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Ada lima debat yang dilakukan, dua diantaranya sudah diselenggarakan pada tanggal 17 Januari 2019 dan 17 Februari 2019. Namun, debat yang sudah diselenggarakan masih belum optimal. Pada debat capres-cawapres yang pertama, berdasarkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) hanya 2,9 persen responden saja yang mengubah pilihannya. Lalu pada debat capres yang kedua, menurut media tirto.id pada tanggal 18 Februari 2019 menyatakan bahwa masing-masing capres gagal dalam membahas isu krusial. Oleh karenanya, perlu dilakukan wadah penyampaian ide dan gagasan yang lainnya kepada masyarakat dan mahasiswa. Jika hal ini tidak terjadi, maka akan menimbulkan “kemacetan intelektual”. Mahasiswa yang mengenyam bangku pendidikan tertinggi di negeri ini tidak dapat menentukan pilihannya. Sebab, belum tersampaikan ide dan gagasan secara optimal dari masing-masing kandidat.
Kami dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (BEM UNJ) ingin menyelenggarakan Bedah Gagasan kepada masing-masing kandidat yang akan diwakili oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) dari nomor urut 01 dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) dari nomor urut 02 untuk menyampaikan ide dan gagasan dari masing-masing kandidat, lalu didiskusikan agar mahasiswa dapat memahami ide dan gagasannya secara fundamental pada tanggal 20 Maret 2019 di Kampus UNJ. Kami akan mengirimkan surat undangan sebagai pembicara ke masing-masing kandidat melalui TKN dan BPN.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: