Jakarta Bisa Kok Jadi Kota Ramah Perempuan

Jakarta Bisa Kok Jadi Kota Ramah Perempuan

Bukan menjadi rahasia umum kalau perempuan adalah makhluk yang istimewa dan harus diistimewakan. Sangking istimewanya, dunia internasional pun menetapkan tanggal Women’s International Day setiap tanggal 08 Maret. Oleh karena itu, tentu saja perempuan layak mendapatkan fasilitas istimewa di ruang publik.

Lalu kenapa sih Jakarta harus jadi kota ramah perempuan?

Pertama, karena Jakarta adalah pusat dari berbagai kegiatan. Jika kita melakukan kilas balik bagaimana perkembangan kota Jakarta dari masa ke masa tentu sangat berbeda. Banyaknya pembangunan infrastruktur, penanaman industri hingga kegiatan pemerintahan berpusat di Jakarta. Lalu apa efeknya? Pertama dan paling dirasakan yaitu bertambahnya pendatang baru dari luar Jakarta sampai ada yang terpaksa menetap karena alasan kebutuhan hidup. Bahkan banyak pula kaum perempuan yang menggantungkan hidup mereka di kota Jakarta ini.

Kedua, karena perempuan rawan mengalami pelecehan seksual. Dalam kajian bertajuk Learning from Woman to Create Gender Inclusive Cities yang disusun oleh Women in Cities International diperoleh kesimpulan bahwa hampir 60% kaum perempuan di berbagai kota merasa tidak aman di lingkungan kota. Jika kaum perempuan saja dilecehkan, bagaimana bisa mencetak generasi penerus yang hebat pula. Ini bukan hanya tentang kesejahteraan perempuan tapi juga masa depan bangsa.
Jakarta bisa kok jadi kota ramah perempuan.

Perlu digarisbawahi bahwa perempuan memiliki sisi istimewa. Oleh karena itu, perlu dilakukan pencerdasan di masyarakat akan pelayanan perempuan di ruang publik. Pemerintah sebagai konseptor juga perlu memperhatikan kondisi infrastruktur yang dibangun. Hal-hal seperti penerangan di jalan maupun trotoar. Kondisi penerangan yang baik dapat menciptakan rasa aman. Selain penerangan, ada pula pemasangan kamera CCTV di berbagai sudut kota. Hal ini bermanfaat untuk memantau setiap kejadian yang ada sehingga pemerintah bisa cepat tanggap dalam mengambil keputusan serta meminimalisir terjadinya tindakan kriminal. Lalu ada juga transportasi umum yang aman bagi perempuan. Indikator aman tersebut seperti disediakan ruang khusus wanita di dalamnya serta tempat duduk prioritas.

Selain itu adanya toilet umum yang memadai untuk kaum perempuan. Toilet yang aman untuk perempuan adalah toilet yang bersih, tidak rusak, memiliki persediaan air yang cukup dan tertutup. Terakhir yakni kemudahan sistem pelaporan kepada pihak terkait jika suatu saat mendapati perempuan dalam kondisi tidak aman di ruang publik. Hal ini juga bisa dilengkapi dengan sosialisasi langkah-langkah pelaporan kepada pihak berwajib. Pembangunan seperti ini perlu dilakukan secara merata di setiap sudut kota Jakarta.
Menjadi kota ‘ramah’ perempuan bukan hanya mengembangkan fasilitas-fasilitas di ruang publik, tapi sebagai perempuan tentunya kita harus menjaga diri, memanfaatkan fasilitas yang ada serta turut merawat fasilitas yang disediakan pemerintah. (Ist)

 

Sumber : http://analisadaily.com

One thought on “Jakarta Bisa Kok Jadi Kota Ramah Perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: